blognya para pecinta ikan

Opini

KIARA Tuntut Reorientasi Kebijakan Perikanan

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) melakukan aksi menuntut pemerintah untuk melakukan reorientasi kebijakan sektor perikanan. “Reorientasi kebijakan sektor perikanan diperlukan segera seiring dengan terjadinya krisis pangan dunia,” kata koordintor program KIARA Abdul Halim saat ditemui saat Aksi bersama sekitar 50 lebih aktivisi KIARA di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sabtu.

Abdul Hakim mengatakan, saat ini terjadi penyusutan sumber daya laut yang menyengsarakan nelayan dan masyarakat miskin di Indonesia. Menurut dia, berdasarkan data FAO, sebesar satu miliar penduduk menderita kelaparan akut, dan kawasan Asia Tenggara dinilai dalam kondisi kekurangan pangan dan gizi dua kali lebih besar dibandingkan wilayah Sub Sahara Afrika.

Salah satu penyebabnya, adalah 75 persen dari hasil tangkapan ikan di wilayah Asia Tenggar hanya diperdagangkan ke negara Jepang, Amerika Serikat, Eropa dan China, “Ini sebuah bencana, malapetaka terjadi di sebuah kawasan yang memiliki sumber daya pangan perikanan yang luar biasa besarnya,” katanya. (lebih…)


Produksi Rumput Laut Indonesia Siap Menjadi Nomor 1

Jakarta – Pemerintah di tahun 2011 ini fokus meningkatkan produksi rumput laut hingga mencapai 3 juta ton. Dengan angka tersebut pemerintah yakin Indonesia menjadi nomor wahid dalam produksi rumput laut menyaingi Filipina.

Demikian disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad ketika ditemui di sela peresmian Gerakan Mari Makan Ikan (Gemari) dan penandatangan MoU bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan PT Carrefour Indonesia di Kantornya, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Rabu (23/3/2011).

“Kita fokuskan tahun ini di produksi rumput laut di pantai-pantai. Dulu produksi kita itu baru 2 juta ton menjadi nomor dua setelah Filipina yang mencapai 2,5 juta ton. Nah sekarang kita akan menjadi yang nomor satu dengan memproduksi 3 juta ton,” ujar Fadel. Dikatakan Fadel, produsen rumput laut tersebut pekerjanya kebanyakan ibu-ibu. Maka, untuk menggenjot produksi perlu ditunjang kesejahteraan para ibu-ibu tersebut.

“Untuk itu kita mengadakan MoU dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan para wanita pekerja di sektor perikanan. Selain itu MoU perihal kesetaraan gender di sektor perikanan,” tambahnya.

Menurut Fadel, terjadi banyak ketertinggalan ibu-ibu nelayan di pesisir pantai dimana sesuai hasil survei Kementerian Kelautan dan Perikanan berkesimpulan ibu-ibu terseut berpendidikan rendah.

“Maka dari itu nantinya akan dibuat Inpres bagi ibu-ibu nelayan yang berisi program kesejahteraan nelayan, beasiswa. Anggarannya cukup besar hingga mencapai triliunan yang nantinya akan bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan,” tuturnya.

sumber : http://www.rumputlaut.org/

semoga perikanan indonesia mendunia. seharusnya dengan sumber daya alam yang melimpah kejayaan indonesia dalam dunia perikanan bukanlah hal yang mustahil

Recent Posts :


Keberadaan Ikan Import Mengancam Ikan Lokal

Setiap harinya, Jawa Tengah dibanjiri ikan impor hingga mencapai 700 ton. Ikan-ikan tersebut didatangkan dari berbagai negara untuk memenuhi kebutuhan sejumlah rumah makan di Jawa tengah.

Koordinator Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) Jawa Tengah, Sukarman, SH menyebutkan, yang menjadi persoalan dari ikan impor tersebut, ternyata jenisnya sama dengan yang disuplai oleh nelayan lokal.

“Sejauh ini, Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan Nomor 17 Tahun 2010 hanya mengatur masalah baku mutu ikan. Namun tak ada pembatasan jenis ikan. Akibatnya yang diimpor jenisnya sama dengan ikan lokal, seperti ikan patin, ikan bawal, ikan tuna dan lain-lain,” kata Sukarman, Selasa (05/04/2011), di sela-sela persiapan peringatan Hari Nelayan 6 April besok, di Semarang.

Kebijakan Kementrian Kelautan dan Perikanan tersebut dinilai sangat merugikan nelayan. Idealnya, ijin impor ikan juga mengatur tentang jenis ikan, khususnya ikan-ikan yang tidak bisa disediakan oleh nelayan lokal. (lebih…)